SELAMAT DATANG DI BLOG RIDWAN SAPUTRA....
08.04

Frasa

Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas unsur klausa. Dari pengertian tersebut dapat diktakan bahwa frasa mempunyai dua sifat, yaitu: 1) Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih; 2) Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET.



3.1.1 Kategorisasi Frasa

Berdasarkan distribusinya ada dua macam frasa, yaitu:

1) Frasa Endosentrik ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.

2) Frasa Eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.

Berdasarkan kategorisasi kata ada lima macam frasa, yaitu:

1) Frasa Nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal.

2) Frasa Verbal ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal.

3) Frasa Bilangan ialah prasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.

4) Frasa Keterangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.

5) Frasa Depan ialah frasa yang terdiri atas dari kata depan sebagai penanda diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya.



a. Frasa Endosentrik

Fasa endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:


1) Golongan Endosentrik yang Koordinatif

Frasa ini terdiri atas unsur-unsur yang setara/mempunyai fungsi yang sama dengan semua unsur langsungnya. Kesetaraan itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungan dengan kata penghubung dan atau atau. Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa frasa endosentrik yang koordinatif itu ialah frasa yang unsur-unsurnya pembentuknya dapat dihubungkn oleh kata dan atau atau, misalnya: ayah ibu. dua tiga (hari), belajar bekerja.


2) Frasa Endosentrik yang Atributif

Berbeda dengan frasa endosentrik yang koordinatif frasa golongan ini terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, misalnya: sekolah inpres, baju baru, jendela rumah, sedang bernyanyi. Kata-kata yang bercetak miring dalam frase diatas yaitu sekolah, baju, dan jendela, merupakan unsur pusat (UP). Unsur pusat ialah unsur yang secara distribusi sama dengan seluruh frasa dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting. Sedangkan unsur lainnya seperti inpres, baju, rumah, dan sedang merupakan atributif (Atr.)

3) Frasa Endosentrik Apositif

Frasa endosntrik apositif secara semantik unsur yang satu sama dengan unsur lainnya. Misalnya: Yogya, kota pelajar, ramai dikunjungi wisatawan manca negara. Unsur utama frasa tersebut ialah Yogya. Unsur keduanya ialah kota pelajar. Dalam kalimat tersebut unsur kedua memiliki unsur yang sama dengan unsur yang pertama. Karena sama, maka unsur kota pelajar dapat menggantikan unsur Yogya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat berikut:

a) Yogya, kota pelajar, ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.

Unsur Yogya yang merupakan unsur pusat (UP), sedangkan unsur kota pelajar merupakan aposisi (AP). Conto lain misalnya:

b) Indonesia, tanah airku

c) Asep, teman karibku

d) SBY, Presidenku



b. Frasa Eksosentrik

Frasa eksosentrik ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.

Frasa di Bandung, ke Jakarta, dan si miskin, merupakan contoh frasa eksosentrik. Sebab, frasa di Bandung, ke Jakarta, maupun si miskin, tidak dapat berdistribusi sama dengan semua atau salah satu unsur pembentuknya. Ketidaksamaannya dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:


1. Arif bertempat tinggal di –
2. Arif bertempat tinggal – Bandung
3. Minggu yang lalu kami pergi ke -
4. Minggu yang lalu kami pergi – Jakarta
5. Pada hari raya Idul Fitri si- pun ikut bergenbira
6. Pada hari raya Idul Fitri – miskin pun ikut bergembira


c. Frasa Berdasarkan Katagori Kata

Berdasarkan kategorisasi kata ada lima macam frasa, yaitu: 1) frasa nominal, 2) frasa verbal, 3) frasa bilangan, 4) frasa keterangan, dan 5) frasa depan.



1) Frasa Nominal (Frasa Benda)

Frasa nominal ialah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran:

Ia membeli baju baru

Ia membeli baju

Frasa baju baru dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termauk golongan kata nomial, karna itu, frasa baju baru termasuk golongan frasa nominal. Contoh-contoh lain, misalnya: mahasiswa lama, gedung sekolah, dosen yang bijaksana, kapal terbang itu, jalan raya ini, yang akan pergi.



2) Frasa Verbal

Frasa verbal atau frasa golongan V ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari adanya jajaran:

Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.

Dua orang mahasiswa – membaca buku baru di perpustakaan.

Frasa sedang membaca dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata membaca. Kata membaca termasuk golongan V, karena itu frasa sedang membaca juga termasuk golongan V.

Frasa akan pergi terdiri atas unsur akan dan pergi. Kata akan termasuk golongan kata tambah (T), sedangkan kata pergi termasuk golongan V. Jadi secara katagorial frase tersebut terdiri atas T sebagai Art diikuti V sebagai UP.



3) Frasa Bilangan

Frasa bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilanagn. Misalnya frase dua buah dalam dua buah rumah. Frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan kata dua. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran:

Dua buah rumah

Dua – rumah



4) Frasa Keterangan

Frasa keterangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata katerangan. Misalnya frasa tadi malam yang mempunyai persamaan distribusi dengan kata tadi. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dari jajaran:

Tadi malam Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.

Tadi – Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.



5) Frase Depan

Frasa depan ialah frasa yang terdiri atas kata depan sebagi penanda, diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya. Farsa di sebuah rumah terdiri atas kata depan di sebagai penanda, diikuti frasa sebuah rumah sebagai aksisnya. Kata depan menandai berbagai makna. Dalam frasa di sebuah rumah kata depan di menandai hubungan makna ‘keberadaan’ di suatu tempat.



DAFTAR PUSTAKA



Ramlan, M. 1978. Kata Verbal dan Proses vebalisasi dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Gajah Mada.

Ramlan, M. 1983. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.

Samsuri. 1994. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.

Slametmuljana. 1969. Kaidah Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah

Tarigan, Hendri Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.

0 komentar: