SELAMAT DATANG DI BLOG RIDWAN SAPUTRA....
07.54

PRAGMATIK "DEIKSIS"

DAFTAR ISI

Prakata..................................................................................................................


i

Daftar Isi...............................................................................................................


ii

BAB I


PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang ..........................................................................


1



1.2 Rumusan Masalah .....................................................................


2



1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................


2



1.4 Manfaat Penulisan ……………………………………………


2

BAB II


PEMBAHASAN




2.1 Kajian Pragmatik ....……..........................................................


3



2.2 Pengertian Deiksis ..….............................................................


7



2.3 Jenis Deiksis .………………....................................................


9



2.4 Penggunaan Kata Ganti Nondeiksis ………………………….


18



2.5 Deiksis dan Acuan ……………………………………………


19

BAB III


PENUTUP




3.1 Simpulan ……………………………………………………...


24



3.2 Saran ………………………………………………………….


24

DAFTAR PUSTAKA



***

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Manusia dilahirkan di dalam dunia sosial di mana mereka harus bergaul dengan manusia lain yang di sekitarnya. Sejak awal hidupnya dia sudah bergaul sosial dengan terdekat, meskipun bentuk masih satu arah-orang tua berbicara, dan bayi hanya mendengarnya saja. Dalam perkembangan hidup selanjutnya, dia mulai memperoleh bahasa setapak demi setapak. Pada saat yang sama, dia juga sudah dibawa ke dalam kehidupan sosial di mana terdapat rambu-rambu perilaku kehidupan. Rambu-rambu ini diperlukan karena meskipun manusia itu dilahirkan bebas, tetap saja dia harus hidup bermasyarakat. Ini berarti bahwa dia harus pula menguasai norma-norma sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sebagian dari norma-norma ini tertanam dalam bahasa sehinngga kempetensi anak tidak hanya terbatas pada apa yang dinamakan pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use). Dengan kata lain, anak harus pula menguasai kemampuan pragmatik.

Suatu informasi pada dasarnya mensyaratkan kecukupan (sufficient) dalam struktur internal informasi itu sendiri sehingga orang yang diajak komunikasi dapat memahami pesan dengan tepat. Persoalan akan muncul, bagaimana jika informasi itu hanya dapat dipahami dari konteksnya. Deiksis adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan keniscayaan hadirnya acuan ini dalam suatu informasi. Menariknya, meski deiksis ini erat kaitannya dengan konteks berbahasa, namun tidak masuk dalam kajian pragmatik karena sifatnya yang teramat penting dalam memahami makna semantik. Dengan kata lain deiksis merupakan ikhtiar pragmatik untuk memahami makna semantik.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang di sampaikan di atas, ada beberapa permasalah yang disampaikan.

1. Apa itu deiksis?

2. Ada berapa jenis deiksis?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan latar belakang serta rumusan masalah di atas, ada beberapa manfaat yang ingin dicapai.

1. Mengetahui apa itu deiksis.

2. Mengetahui jenis-jenis deiksis.

1.4 MANFAAT PENULISAN

· Mahasiswa

Bagi mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia, makalah ini dapat digunakan sebagai referensi atau bahan penunjang kegiatan perkulliahan. Makalah ini dapat mambantu kesulitan mahasiswa dalam menemukan referensi yang tepat mengenai kajian Pragmatik, khususnya Deiksis.

· Dosen

Bagi dosen, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk memberikan pengajaran tentang Pragmatik, khusunya tentang Deiksis.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KAJIAN PRAGMATIK

Istilah pragmatik pertama-tama digunakan oleh filosof kenamaan Charles Morris (1938). Filosof ini memang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu yang mempelajari system tanda (semiotik). Dalam semiotik ini, dia membedakan tiga konsep dasar yaitu sintaktik, semantik, dan pragmatik. Sintaktik mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda. Semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan objek. Pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir (interpreters). Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda-tanda bahasa bukan yang lain.

Berbeda dengan Charles Morris, Carnap (1938) seseorang filosof dan ahli logika menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak tertentu yang menunjukkan pada agents. Dengan perkataan lain, pragmatic mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda dengan pemakai tanda tersebut. Selanjutnya, ahli lainkan Montague mengatakan bahwa pragmatic adalah Studi yang mempelajari idexical atau deictic. Dalam pegertian yang terakhir ini, pragmatic berkaitan dengan teori rujukan/deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakainya.

Levinson (1983) dalam bukunya yang berjudul Pragmatics, memberikan beberapa batasan tentang pragmatik. Beberapa batasan yang dikemukakan Levinson antara lain mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Dalam batasan ini berarti untuk memahami pemakaian bahasa kita dituntut memahami pula konteks yang mewadahi pemakaian bahasa tersebut. Batasan lain yang dikemukakan Levinson mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu.

Leech (1983:6(dalam Gunawan 2004:2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam bidang linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini disebut semantisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik dan komplementarisme atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. Pragmatik dibedakan menjadi dua hal:

1. Pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu pragmatik sebagai bidang kajian linguistik dan pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa.
2. Pragmatik sebagai sesuatu yang mewarnai tindakan mengajar

Pragmatik pada dasarnya memperhatikan aspek-aspek proses komunikatif (Noss dan Llamzon, 1986). Menurut Noss dan Llamzon, dalam kajian pragmatik ada empat unsur pokok, yaitu hubungan antar peran, latar peristiwa, topik dan medium yang digunakan. Pragmatik mengarah kepada kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang menghendaki adanya penyesuaian bentuk (bahasa) atau ragam bahasa dengan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Faktor-faktor tersebut yaitu siapa yang berbahasa, dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam situasi apa, dalam konteks apa, jalur yang mana, media apa dan dalam peristiwa apa sehingga dapat disimpulkan bahwa pragmatik pada hakekatnya mengarah pada perwujudan kemampuan pemakai bahasa untuk menggunakan bahasanya sesuai dengan faktor-faktor penentu dalam tindak komunikatif dan memperhatikan prinsip penggunaan bahasa secara tepat.

Pragmatik adalah kajian tentang penggunaan bahasa sesungguhnya. Pragmatik mencakup bahasan tentang deiksis, praanggapan, tindak tutur, dan implikatur percakapan. Deiksis adalah kata yang tidak memiliki referen yang tetap ( tetapi berubah-ubah ) seperti kata saya, sini, sekarang. Misalnya dalam dialog antara A dan B, saya secara bergantian mengacu kepada A atau B. Kata sini mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur, kata sekarang mengacu kepada waktu ketika penutur sedang berbicara.

Praanggapan mengacu kepada makna tersirat yang ” mendahului“ makna kalimat yang terucapkan ( tertulis ). Makna ini dapat ditangkap dan disimpulkan oleh pendengar ( pembaca ). Kalau kita mendengar ujaran “ibunya sedang sakit”, maka “makna lain” yang bisa ditangkap, yaitu ‘dia mempunyai ibu.’ Inilah yang disebut praanggapan. Untuk mengecek kebenarannya, kita dapat menggabungkan keduanya dengan menempatkan praanggapan di depan ujaran tadi menjadi: “Dia mempunyai ibu, ibunya sedang sakit”. Tetapi, praanggapan itu akan janggal jika ditempatkan di belakang.

Praanggapan berbeda dengan pengartian. Yang disebut pengartian yaitu “makna lain” yang “mengikuti” suatu ujaran. Misalnya kalau kita mendengar ujaran “ini bunga”, maka sebenarnya ada sejumlah makna yang menyertai makna ujaran itu yaitu “pantas wangi” (ini) bukan kerbau. Kalau digabungkan akan menjadi seperti ini:

“ini bunga. Pantas wangi.”

“ini bunga. Bukan kerbau.”

Dalam kehidupan sehari-hari pengartian banyak sekali didahului kata “Artinya, ….”, “itu berarti,….” Jadi, semacam simpulan atau tambahan pengertian (atau makna) atas ujaran yang mendahuluinya.

Tindak tutur adalah suatu ujaran sebagai suatu satuan fungsional dalam komunikasi. Di dalam teori tindak tutur, ujaran itu mempunyai dua jenis makna yaitu:

§ Makna proposisional (disebut juga makna lekusioner). Makana ini merupakan makna harafiah dasar dari ujaran yang disampaikan (dibawa) oleh kata atau struktur yang dikandung oleh ujaran itu.

§ Makna ilokusioner (daya ilokusioner). Makna ini merupakan efek yang dipunyai oleh teks tertulis atau ujaran terhadap pembaca atau pendengar. Misalnya kalimat “Saya haus.” Makna proposisionalnya adalah apa yang dikatakan tentang keadaan fisik penutur.

Daya ilokusioner adalah efek yang diinginkan penutur yang dipunyai oleh ujaran terhadap pendengar. Ujaran di atas misalnya mungkin dimaksud untuk meminta sesuatu untuk diminum. Sebuah tindak tutur adalah kalimat atau ujaran yang mempunyai makna proposisional dan daya ilokusioner. Sebuah tindak tutur yang dibentuk secara tidak langsung kadang-kadang disebut tindak tutur tidak langsung, seperti tindak tutur dalam contoh di atas (“saya haus”). Tindak tutur ini sering dirasakan lebih sopan untuk membangun tindak tutur tertentu, misalnya permintaan penolakan.

Implikatur percakapan mengacu kepada jenis “kesepakatan bersama” antara penutur dan lawan tuturnya, kesepakatan dalam pemahaman, bahwa yang dibicarakan harus saling berhubungan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada masing-masing ujaran. Artinya, makna keterkaitan itu tidak diungkapkan secara harafiah pada ujaran itu. Dalam hal itu Soemarmo (dalam Dardjowidjojo, 1988) member contoh cakapan berikut:

A: “Kamu masih di sini.”

B: “Bus ke Muntilan baru saja lewat.”

Kalau hanya melihat kedua ujaran A dan B itu kita tidak memperoleh keterkaitan, karena A berbicara (mungkin dengan keterkejutan atau keheranan masih di sini, di Jogja) tentang B yang ada di depannya, sedangkan B berbicara tentang bus yang ke Muntilan. B tidak perlu heran, karena ada kebenaran bahwa “B ada di sini”. Meskipun A berujar demikian. Mengapa? Karena B menyadari bahwa A tahu betul seharusnya B sudah berangkat ke Muntilan (dan tidak “di sini”). Sebaliknya, A juga tidak perlu heran karena B mengucapkan kalimat itu karena kalimat B tadi merupakan alasan mengapa dia belum berangkat (dan arena itu masih di sini). Jadi, implikatur percakapan itu dapat dikatakan sejenis makna yang terkandung dalam cakapan yang dipahami oleh masing-masing partisipan.

2.2 PENGERTIAN DEIKSIS

Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis, misalnya he, here, now. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas.Tenses atau kala juga merupakan jenis deiksis. Misalnya then hanya dapat di rujuk dari situasinya.

Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”, informasi dari kata ganti “saya” dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. Ungkapan-ungkapan yang hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis.

Lavinson (1983) memberi contoh berikut untuk menggambarkan pentingnya informasi deiksis. Misalnya anda menemukan sebuah botol di pantai berisi surat di dalamnya dengan pesan sebagai berikut :

(1) Meet me here a week from now with a stick about this big.

Pesan ini tidak memiliki latar belakang kontekstual sehingga sangat tidak informatif. Karena unkapan deiksis hanya memiliki makna ketika ditafsirkan oleh pembaca. Pada dasarnya ungkapan deiksis ini masuk dalam ranah pragmatik. Namun karena penemuan makna ini sangat penting untuk mengetahui maksud dan kondisi yang sebenarnya maka pada saat yang sama masuk dalam ranah semantik. Dengan kata lain dalam kasus ungkapan deiksis, proses pragmatik dalam mencari acuan masuk dalam semantik. Umumnya kita dapat mengatakan ungkapan deiksis merupakan bagian yang mengacu pada ungkapan yang berkaitan dengan konteks situasi, wacana sebelumnya, penunjukan, dan sebagainya.

Dalam KBBI (1991: 217), deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata tunjuk pronomina, ketakrifan, dan sebagainya.

Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana, 1998: 6). Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217), deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan.

Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons, 1977: 637 via Djajasudarma, 1993: 43).

Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan, 1997: 6).

Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang tidak merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons, 1977: 638 via Setiawan, 1997: 6).

Berdasarkan beberapa pendapat, dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk, pronomina, dan sebagainya. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora.

Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiktis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.

2.3 JENIS-JENIS DEIKSIS

Deiksis ada lima macam, yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan, 1987: 40). Selain itu Kaswanti Purwo (Sumarsono: 2008;60) menyebut beberapa jenis deiksis, yaitu deiksis persona, tempat, waktu, dan penunjuk. Sehingga jika digabungkan menjadi enam jenis deiksis. Paparan lebih lengkap sebagai berikut.

a. Deiksis Persona

Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons, 1977: 638 via Djajasudarma, 1993: 44). Deiksis perorangan (person deixis); menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan, dan entitas yanng lain.

Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.

Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo, 1984: 106). Oleh karenanya, untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora, maka kalimatnya harus diubah, yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. (Setiawan, 1997: 8).

Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut, baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal.

Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua, kata ganti persona ketiga, baik tunggal, seperti bentuk dia, ia, -nya maupun bentuk jamak, seperti bentuk sekalian dan kalian, dapat bersifat endofora dan eksofora. Oleh karena bersifat endofora, maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan, 1997: 9).

Deiksis persona merupakan deiksis asli, sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu.

Deiksis perorangan menunjukan subjektivitas dalam struktur semantik. Deiksis perorangan hanya dapat ditangkap jika kita memahami peran dari pembicara, sumber ujaran, penerima, target ujaran, dan pendengar yang bukan dituju atau ditarget. Dengan demikian kita dapat mengganti kata ganti dan kata sifat pada contoh (6) dengan contoh (7) atau (8) dalam proses ujaran.

(6) “give me your hand”

(7) “give him your hand”

(8) “I give him my hand”

Berikutnya, penting kiranya melihat jumlah jamak yang berbeda maknanya ketika kita terapkan pada orang pertama dan orang ketiga. Pada orang pertama, bukan berarti multiplikasi dari pembicara. Juga, “we” dapat menjadi inklusif atau eksklusif dari yang ditunjuk. Sistem kata ganti berbeda dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain karena ragam perbedaan ditambahkan seperti jumlah dua, jenis kelamin, status sosial, dan jarak sosial. Lebih-lebih, istilah keturunan juga menunjuk pada deiksis. Misalnya, dalam bahasa Aborigin Australia ada istilah yang digunakan untuk seseorang yang merupakan bapak pembicara dan merupakan kakek pembicara. Bapak pembicara yang bukan kakek pembicara akan ditunjukan dengan istilah yang lain.

Jika ditinjau dari segi artinya, pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan -dalam macam kalimat tertentu- juga predikat. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono, 1997: 170).

Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona, yaitu persona pertama, persona kedua dan persona ketiga (Lyons, 1997: 276 via Setiawan, 1997: 9). Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P, 1988: 172 via Setiawan, 1997: 9).

Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono, 1997: 172).

1. Pronomina Persona Pertama

Dalam Bahasa Indonesia, pronomina persona pertama tunggal adalah saya, aku, dan daku. Bentuk saya, biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Bentuk saya, dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya, misalnya: rumah saya, paman saya. Pronomina persona pertama aku, lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk, yaitu -ku dan ku-. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku, pada umumnya digunakan dalam karya sastra.

Selain pronomina persona pertama tunggal, bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak, yakni kami dan kita. Kami bersifat eksklusif; artinya, pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif; artinya, pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin pula pihak lain.

2. Pronomina Persona Kedua

Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud, yakni engkau, kamu Anda, dikau, kau- dan -mu. Pronomina persona kedua engkau, kamu, dan -mu, dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama; orang yang status sosialnya lebih tinggi; orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial.

Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Selain itu, pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus; dalam hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab.

Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak, yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian, kamu sekalian. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan -mu.

3. Pronomina Persona Ketiga

Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia, dia, -nya dan beliau. Dalam posisi sebagai subjek, atau di depan verba, ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan, hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat, yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Dari keempat pronomina tersebut, hanya dia, -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.

Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain; misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya.

Akan tetapi, pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi, kata mereka kadang-kadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai, misalnya usul mereka, rumah mereka.

b. Deiksis Tempat

Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia- membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan, 1987: 41). Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat.

(8) a. Duduklah kamu di sini.

b. Di sini dijual gas Elpiji.

Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit, yakni sebuah kursi atau sofa. Pada kalimat (8b), acuannya lebih luas, yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain.

Deiksis tempat menunjukan lokasi relatif bagi pembicara dan yang dibicarakan seperti pada “ten metres further”, ‘ten miles east of here’, ‘here’, there’. Misalnya kita dapat mendefinisikan here sebagai unit ruang yang mencakup lokasi pembicara pada saat dia berujar atau lokasi terdekat pada lokasi pembicara pada saat berujar yang mencakup tempat yang ditunjuk jika ketika berkata here diikuti gerakan tangan. Ukuran dari lokasi juga berbeda-beda, yang di pengaruhi oleh pengetahuan latar belakang. Here dapat berarti kota ini, ruangan ini, atau titik tertentu secara pasti. Dalam hal kata ganti this dan that, pilihan juga dapat didiktekan berdasarkan kedekatan emosional (empathy) dan jarak. Hal ini sering disebut deiksis empathetik. Dalam beberapa budaya, kata ganti demonstratif ini dapat dibedakan lebih berdasarkan prinsip-prinsip daripada jarak pembicara, seperti (i) dekat pada yang dibicarakan, (ii) dekat pada audien, (iii) dekat pada orang yang tidak ikut peristiwa (iv) berdasarkan pada arah-above-below, atau bahkan (v) kalihatan tidak kelihatan pada pembicara atau (vi) upriver- downriver dari pembicara, tergantung pada sistem dalam mengkonseptualisasi ruangan yang digunakan dalam bahasa tertentu. Deiksis tempat juga dapat menggunakan untuk waktu misalnya dalam contoh (14).

(14) I live ten minutes from here.

Tidak selalu mudah untuk memutuskan apakah penggunaan sebuah unngkapan itu deiksis atau non deiksis misalnya pada contoh (15). Pohon dapat berada di belakang mobil atau tertutup pandangan karena terhalang oleh mobil

(15) The tree is behind the car.

Seperti halnya pada contoh (16), anak laki-laki bisa berada di sisi kiri Tom atau di kiri Tom dari sudut acuan pembicara.

(16) The boy is to the left of Tom

c. Deiksis Waktu

Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan, 1987: 41). Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris.

(9) a. “I bought a book”.

b. “I am buying a book”.

Meskipun tanpa keterangan waktu, dalam kalimat (9a) dan (9b), penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci, dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu; umpamanya, yesterday, last year, now, dan sebagainya. Contoh dalam bahasa Inggris:

(10) a. “I bought the book yesterday”.

b. “I bought the book 2 years ago”.

Deiksis waktu juga ditujukan pada partisipan dalam wacana. “Now” berarti waktu dimana pembicara sedang menghasilkan ujaran. Waktu pengujaran berbeda dari waktu penerimaan, meskipun dalam prakteknya peristiwa berbicara dan menerima memungkinkan berdekatan atau kotemporal. Pusat deiksis dapat ditujukan pada yang dibicarakan sebagaimana yang didiskusikan dalam contoh (9). “Now” mengacu pada waktu dimana yang dibicarakan mempelajari kebenaran, yang diikuti dengan waktu dimana pengarang mengungkapkan pesan.

(9) “You know the truth now. I knew it a week ago, so I wrote this letter”.

Hal menarik yang lain untuk diperhatikan adalah istilah “ today, tomorrow, yesterday” apakah mengacu pada hari keseluruhan atau pada saat tertentu, sebuah episode pada hari itu, seperti pada contoh (10) dan (11) berikut:

(10) “Yesterday was Sunday”.

(11) “I fell off my bike yesterday”.

Jumlah hari secara deiksis juga berbeda dari bahasa satu ke bahasa yang lain: bahasa Jepang memiliki tiga hari ke belakang dari “today” dan dua hari ke depan.

Waktu adalah paling mempengaruhi kalimat menjadi deiksis. Penting kiranya untuk membedakan antara gramatical tenses dan semantic temporallity. Misalnya, kalimat (12) dan (13) adalah non deiksis dan atemporal, meskipun kalimat tersebut memiliki nilai gramatikal.

(12) “A whale is a mammal”.

(13) “Cats like warmth”.

Dalam penelitian semantik tentang temporality atau ‘metalinguistic tense’ yang digali dari logika kala, terdapat perbedaan yang tegas antara (i) past, present dan future, (ii) prioritas relatif dari dua peristiwa dimasa lampau, dan juga antara (iii) hal-hal dalam waktu yang berlawanan dalam rentang waktu. Perbedaan-perbedaan ini tidak secara langsung masuk dalam tenses gramatikal karena tenses gramatikal ini juga mencakup aspect dan modality. Tenses gramatikal juga mencerminkan ketergantungan budaya dalam melihat waktu dan membaginya seperti afiks dalam bahasa Amahuaka yang diucapkan di Peru dimana rentang waktu mempengaruhi rentang sekarang separti halnya “ the morning” atau “the afternoon” tidak harus sebelum malam. Maka meskipun bahasa orang tenses gramatikal, bahasa tersebut tetap memiliki ungkapan temporallity.

d. Deiksis Wacana

Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dsb. Sebagai contoh.

(11) a. “Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya”.

b. “Karena aromanya yang khas, mangga itu banyak dibeli”.

Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian.

e. Deiksis Sosial

Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987: 42). Dalam bahasa Jawa umpamanya, memakai kata nedo dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut “tingkatan bahasa”, dalam bahasa Jawa, ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua, atau ngoko, madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga, dan ngoko, madyo, kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Aspek berbahasa seperti ini disebut “kesopanan berbahasa”, “unda-usuk”, atau ”etiket berbahasa” (Geertz, 1960 via Nababan, 1987: 42-43).

f. Deiksis Penunjuk

Di dalam bahasa Indonesia kita menyebut demontratif (kata ganti penunjuk): ini untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur, dan itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara. “Sesuatu” itu bukan hanya benda atau barang melainkan juga keadaan, peristiwa, bahkan waktu. Perhatikan penggunaannya dalam kalimat-kalimat berikut.

1. Masalah ini harus kita selesaikan segera.
2. Ketika peristiwa itu terjadi, saya masih kecil.
3. Saat ini saya belum bisa ngomong.

Contoh-contoh di atas menunjukan, penggunaan deiksis ini dan itu tampaknya bergantung kepada sikap penuturterhadap hal-hal yang ditunjuk; jika dia “merasa” sesuatu itu dekat dengan dirinya, dia akan memakai ini, sebaliknya itu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang jauh darinya.

Banyak bahasa mempunyai deiksis jenis ini hanya dua saja, yaitu yang sejajar dengan ini dan itu tadi. Bahasa jawa mengenal iki untuk sesuatu yang dekat dengan penutur dan iku dan kuwi untuk sesuatu yang tidak dekat tetapi tidak terlalu jauh, dan iko dan kae untuk yang sangat jauh.

2.4 PENGGUNAAN KATA GANTI NONDEIKSIS

Dalam ungkapan deiksis juga dikenal penggunaan non deiksis seperti dicontohkan dalam kalimat (23) sampai (28) berikut.

(23) You can never tell these days.

(24) There is this man I met in the cafe.

(25) Now, the next topic to discuss is presuposition.

(26) There you are.

(27) I was doing this and that.

(28) Their garage is opposite Honda’s. (vs. their garage is opposite).

Kata ganti juga digunakan secara non deiksis ketika kata ganti itu merupakan anafora dalam pengertian tata bahasa tradisional tentang kata. Dalam kalimat (29), pengacu itu sudah ada pada dalam teks awal daripada dalam konteks situasi. Dengan demikian, The boy mendahului dari anafora ‘he’.

(29) The boy fell off a tree and he was found by the gardener.

Sedangkan kalimat (17), kata ganti it digunakan meskipun acuannya adalah mobil yang dimiliki oleh tetangga, bukan mpbil yang dimiliki oleh pembicara. Maka, tidak ada identitas antara pendahulu dan anafor.

(17) I keep my car in the garage but my next door neighbour keeps it on his drive.

Kita menyebutnya penggunaan ‘it’ sebangai deiksis wacana.

Masalah hubungan anafora dengan kata ganti digunakan sebagai variabel juga muncul seperti pada kalimat (30) dimana ‘She’ mewakili variabel yang terikat dengan ungkapan bilangan every girl.

(30) Every girl thinks she should learn to drive.

Dalam kalimat (31), makna ‘it’ tidak bergantung pada ‘a donkey’ tetapi lebih khusus pada keledai yang dimiliki oleh petani.

(31) Every farmer who owns a donkey beats it.

Kata ganti yang awal (a donkey) merupakan variabel terikat dari ‘every farmer’, dan antara donkey dan kata ganti tidak terhubung secara sintaksis. Dengan kata lain tidak ada hubungan antara ‘a donkey’ dan ‘it’. Logika dari kalimat (31) adalah pada (31a)

(31a) VxVy ((farmer(x) & Donkey (y) & Owns (x,y)) à Beats (x,y))

Tetapi (31a) tidak sepenuhnya menterjemahkan kalimat (31). Tidak ada prosedur langsung yang dapat menterjemahkan kalimat (31) dan (31a).

Pada kalimat (32) tidak ada indikasi bagaimana menafsirkan cakupan dari penjelasan a farmer dan a donkey

(32) If a farmer owns a donkey. He is usually rich.

Jika kita membayangkan 99 petani miskin yang masing-masing memiliki satu keledai dan seorang petani dengan 200 keledai, maka perbedaan menjadi sangat nyata.

2.5 DEIKSIS DAN ACUAN

Mari kita bandingkan hal-hal semantik antara ungkapan deiksis dan acuan yang lain. Dari perspektif fungsi semantik bersyarat, kata ganti, dan demonstratif amat mirip dengan nama. Yaitu mengambil acuan, dan kalimat itu mengandung kebenaran jika predikatnya menunjukan kebenaran dari individu. Tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial. Kata ganti dan demonstratif memiliki acuan variabel (veriable reference): kata ganti dan demonstratif tersebut mengambil acuan yang berbeda dari kesempatan penggunaan yang berbeda. Kalimat (33) kondisi kebenarannya sangat terlihat; tidak ada orang yang disebut Kasia Jaszczolt dan dia adalah seorang linguis.

(33) Kasia Jaszcozlt is a linguist.

Sekarang jika diungkapkan dalam kalimat (34) maka prosedur semantiknya akan terpecah meskipun maknanya sama

(34) I am a linguist.

Hal serupa juga terjadi pada kalimat (35)

(35) We are learning this now.

Batasan antara bergantung pada konteks dan tidak bergantung pada konteks tidak tegas karena memerlukan waktu yang khusus.

Persoalan utama dalam ungkapan deiksis adalah bahwa kalimat yang mengandung ‘I’ dapat mengungkapkan proposisi yang berbeda pada kesempatan penggunaan yang berbeda. Untuk mengatasi kesulitan ini dengan acuan dari ungkapan deiksis harus tetap. Jika acuan itu konstan, maka makna dari ungkapan deiksis akan tetap konstan dalam berbagai kalimat dan bentuk turunan.

(36) I like cheese and wine.

(37) I like cheese.

Berikutnya, perlakuan pada kata tunjuk dalam kalimat kompleks tidaklah semudah kata tunjuk dalam kalimat sederhana. Kita harus memutuskan, misalanya pada kalimat (38), apakah kata ‘that student’ harus dianalisis sebagai that sebagai ‘that’ sebagai kata penunjuk, atau penunjuk ‘that’ plus makna kata ‘student’.

(38) That student knows a lot about Tarski.

Terakhir, perbedaan jenis kelamin nampaknya juga tidak relevan dalam semantik, jika pembicara mengatakan kalimat (39), dengan menunjuk pada George Eliot yang tertera pada sampul buku, pembicara telah mengatakan sesuatu yang benar meskipun pengarangnya adalah seorang wanita, Mary Anne Evans.

(39) He also wrote Middlemarch.

Contoh (40) mengungkapkan pikiran sehingga kata ‘today’ harus mencerminkan pengertian dan juga acuan.

40) Today is fine.

Dalam kalimat (40) mengandung persoalan dalam acuannya. Sehingga dalam mencari acuan semisal kata today, yang juga diuajrkan day d, diartikan ‘jika dan hanya jika ada cara tertentu untuk mencari acuan kapan tepatnya hari tersebut. Penunjuk dalam pengertian berbeda mengungkapkan pengertian yang berbeda pula, dan hal ini beragam dalam berbagai situasi. Bahkan dalam masalah tenses, juga terdapat perbedaan tersebut. Kalimat (41) mungkin tidak benar ketika dikatakan di musim gugur.

(41) This tree is covered with green leaves.

Tetapi pengertian bukan hanya pikiran pribadi: kita juga harus dapat melacak objek ketika kalimat (40) dirubah menjadi kalimat (42) sehari kemudian.

(42) Yesterday was fine

Sehingga seseorang dapat berfikir dengan kondisi yang sama dalam kalimat (40) sehari setelahnya, meskipun ungkapan yang digunakan berbeda.

Dalam pemahaman seperti inilah, kehadiran sesuatu yang diacu menjadi teramat penting agar semantik dari ungkapan deiksis dapat terjelaskan, sekaligus sebagai bentuk ketergantungan pada konteks.

BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Istilah pragmatik pertama-tama digunakan oleh filosof kenamaan Charles Morris (1938). Filosof ini memang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu yang mempelajari system tanda (semiotik). Dalam semiotik ini, dia membedakan tiga konsep dasar yaitu sintaktik, semantik, dan pragmatik. Sintaktik mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda. Semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan objek. Pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir (interpreters). Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda-tanda bahasa bukan yang lain.

Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis, misalnya he, here, now. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas.Tenses atau kala juga merupakan jenis deiksis. Misalnya then hanya dapat di rujuk dari situasinya.

Deiksis ada lima macam, yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan, 1987: 40).

3.2 SARAN

Makalah yang penulis buat tentunya masih jauh dari yang namanya “sempurna”. Ini disebabkan oleh keterbatasan penulis, baik dalam hal pengetahuan dan pengalaman. Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca mencari sumber – sumber lain yang berkaitan dengan Pragmatik khusunya tentang kajian Deiksis sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Karena ada pepatah yang mengatakan, “Semakin ilmu itu digali, maka semakin banyak yang tidak kita ketahui”. Jadikan hal tersebut sebagai pemacu Anda untuk terus maju dan meraih sukses.

DAFTAR PUSTAKA

Gunarwan, Asim. 1993. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di Jakarta: Kajian Sosiopragmatik”. Makalah PELLBA VII, Unika Atma Jaya, Jakarta, 26-27 Oktober 1993.

Kaswanti Purwo, Bambang. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius.

Lubis, A. Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Penerbit Angkasa.

Sumarsono. 2008. Buku Ajar Pragmatik. Singaraja: Undiksha

Wijana, I. Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Yule, George. 2006. Pragmatik (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

______. 1993. “Pragmatik: Pandangan Mata Burung”. Bahan Penataran Linguistik I, Unika Atma Jaya, Jakarta, 4-17 November 1993.

______. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. (terjemahan M.D.D. Oka). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

12.18

SEMINAR BEST OF THE BEST

















10.56

HATI SEPUTIH AWAN

JIKA HATI SEPUTIH AWAN, JANGAN BIARKAN IA MENDUNG.

JIKA HATI SEJERNIH AIR, JANGAN BIARKAN IA KERUH.

JIKA HATI SEINDAH BULAN, HIASI IA DENGAN IMAN.

09.29

SINTAKSIS

BAB 1

APAKAH SINTAKSIS?

1.1 Batasan Sintaksis

Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa dan kalimat. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, misalnya rumah mewah. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah predikat, dam berpotensi menjadi kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat.

1.2 Aspek-Aspek Sintaksis

1.2.1 Kata: Ciri dan Klasifikasi

Kata dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama,kata dilihat dari pemakai bahasa. Menurut pemakai bahasa salah satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang-ulang, dan secara potensial ujaran itu dapat berdiri sendiri. Kedua, kata dilihat secara bahasa. Secara linguistis kata dapat dibedakan atas satuan pembentuknya. Oleh karena itu, kata dapat dibedakan atas:

1) Kata sebagai satuan fonologis

Ciri fonologis kata bahasa Indonesia, misalnya:

1. mempunyai pola fonotatik suku kata,
2. bukan bahasa vokalik,
3. tidak ada gugus konsonan pada posisi akhir,
4. batas kata tidak ditentukan oleh fonem suprasegmental.

2) Kata sebagai satuan gramatikal

Menurut Lyons(1971) dan Dik (1976), secara gramatikal kata bebas bergerak, dapat dipindah-pindahkan letaknya, tetapi identitasnya tetap.

3) Kata sebagai satuan ortografis

Secara ortografis, kata ditentukanoleh sistem aksara yang berlaku dalam bahasa itu. Bahasa Indonesia misalnya menggunakan aksara latin jadi sebuah kata dituliskan terpisah dari kata lainnya, misalnya terima kasih dan kerja sama.

1.2.2 Frasa: Ciri dan Klasifikasi

Frasa dalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu kata konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

1.2.3 Klausa : Ciri dan Klasifikasi

Klausa dalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat.

Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan distribusi satuannya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Berdasarkan fungsinya, klausa dibedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, klausa keterangan, dan klausa pemerlengkapan.

1.2.4 Kalimat: Ciri dan Klasifikasi

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dilihat dari fungsinya, unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya, serta kalimat majemuk.

1.3 Hubungan Sintagmatis dan Paradigmatis

1.3.1 Hubungan Sintagmatis

Hubungan sintagmatis adalah hubungan linier antara unsur bahasa yang satu dan unsur bahasa yang lain dalam tataran tertentu. Hubungan itu dapat diuji dengan permutasi atau perubahan urutan satuan unsur-unsur bahasa. Contoh:

1. Dengan penuh disiplin dan tanggung jawab, saya bekerja keras.
2. Saya// bekerja keras// dengan penuh disiplin// dan tanggung jawab.

1.3.2 Hubunagn Paradigmatis

Hubungan paradigmatis adalah hubungan sistematis antarunsur bahasa yang memiliki kesesuaian.

1) Tataran Fonemis

Fonem /s/ pada kata sarang mempunyai hubungan paradigmatis dengan fonem yang dapat menggantikannya asalkan penggantian itu menghasilkan kata dalam kategori dan fungsi yang sama, misalnya fonem /s/, /b/, /p/, dan /k/ pada kata /s/arang, /b/arang, /p/arang, dan /k/arang karena kata-kata itu berkelas nomina dan sama-sama dapat mengisi fungsi subjek atau objek.

2) Tataran Morfologis

Pada umumnya, urutan morfem dalam sebuah kata tidak dapat diubah-ubah menurut keinginan seseorang, misalnya sebagai pembentuk kata kerja, awalan meng- dan di- selalu terletak pada awal kata, seperti pada menulis dan melancong serta ditempuh dan dijual.

3) Tataran Sintaksis

Ada kalanya kata di dalam sebuah kalimat dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti. Yang berubah akaibat perubahan letak itu hanya pengutamaan informasi, sepaerti

1. Saya dan adik pergi kemarin
2. Kemarin saya dan adik pergi
3. Saya dan adik kemarin pergi

1.4 Kategori, Fungsi, dan Peran

Beberapa jenis kategori yang dapat menjadi unsur kalimat adalah nomina (kata benda), adjektiva(kata sifat), numeralia(kata bilangan), adverbial, dan kata tugas, seperti preposisi(kata depan), konjungsi(kata penghubung), dan partikel, seperti kah, lah, tah, pun.

Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur kalimat ada yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan.

Peran semantis yang lazim terdapat dalam suatu kalimat adalah pengalam atau penanggap (experiencer), pelaku (agent), pokok,cirri, sasaran, hasil, peruntung atau pemaslahatbeneficiary), ukuran(measure), alat(instrument), tempat(place), sumber(source), jangkauan(range), penyerta, waktu dan asal (Kridalaksana 1991; Alwi dkk.1998)

1.5 Kegramatikalan, Kebermaknaan, dan Keberterimaan

Kegramatikalan atau keapika gramatikal (grammatical wellformedness) adalah konsep yang mengacu pada satuan bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa yang meliputi beberapa tingkatan, yaitu menyangkut kegramatikalan bentuk kata, bentuk klausa, atau bentuk kalimat (cf. Lycons, 1981:101)

Kebermaknaan meliputi kebermaknaan kata, frasa, dan kalimat. Selanjutnya, suatu tuturan, mungkin dapat gramatikal dan bermakana, tetapi tuturan lain mungkin tak gramatikal dan tak bermakna Lycins, 1996:132) keberterimaan (acceptability) berkaitan denga sistem bahasa yang tepat atau keapikan semantis (semantic well-formedness). Sebaliknya, ketakberterimaan (unacceptability) berkaitan dengan sistem bahasa yang tidak tepat atau kerantakan semantis (semanticill-formedness) (Lycons, 1979:379)

1.6 Tafsir Ganda

Suatu ungkapan atau pernyataan kadang-kadang bisa ditafsirkan menjadi dua makna, bahkan bermacam-macam makna karena penyusunan ungkapan atau pernyataan tersebut kurang tertib. Misalnya, kalimat (1) Rumah sang jutawan aneh akan dijual menimbulkan tafsir ganda. Tafsir pertama rumahnya yang aneh dan tafsir kedua sang jutawannya yang aneh. Agar tidak menimbulkan tafsir ganda maka kalimat tersebut direvisi menjadi (1a) Rumah aneh milik sang jutawan aka dijual dan (1b) Rumah milik sang jutawan aneh akan dijual.

1.7 Parafrasa

Parafrasa berarti (1) pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain dengan tidak mengubah arti; (2) penguraian kembali suatu teks (karangan dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi. Contohnya:

a. 1.Ada beberapa kendala dalam penyelesaian BLBI.

2.Bantuan Likuiditas Banh Indonesia yang dibawa kabur oleh konglomerat ke Singapura dan Cina sulit diselesaikan karena banyak hambatan, antara lain, belum dimilikinya perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Negara tersebut.

1.8 Permutasi

Permutasi adalah perubahan deretan atau urutan unsur-unsur kalimat.

Misalnya, kalimat pada hari Senin minggu depan Menteri Pembangunan Daerah Tertinngal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia dapat dipermutasi menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal akan mengumumkan jumlah desa tertinggal di Indonesia Senin minggu depan.

BAB 2

KLASIFIKASI FRASA

2.1 Pengantar

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (Rusyana dan samsuri 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih.

2.2 Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi.

2.2.1 Frasa Eksosentris Direktif (Frasa Preposisional)

Frasa preposisional pada umumnya berfungsi sebagai keterangan. Pada dasarnya, frasa preposisional menunjukkkan makna berikut:

1. tempat, seperti di pasar, ke rumah
2. asal arah, seperti dari kampong, dari sekolah
3. asal bahan, seperti cincin( dari emas)
4. tujuan arah, seperti ke Lampung, ke Kampus
5. menunjukkkan peralihan, seperti kepada saya
6. perihal, seperti tentang ekonomi
7. tujuan, seperti untukmu, buatmu
8. sebab, seperti karena, lantaran
9. penjadian, seperti oleh karena itu
10. kesertaan, seperti denganmu
11. cara, seperti dengan baik
12. alat, seperti dengan cangkul
13. keberlangsungan, seperti sejak kemarin
14. penyamaan, seperti selaras dengan
15. perbandingan, seperti seperti dia

2.2.2 Frasa Eksosentris Nondirektif

Frasa eksosentris nondirektif dapat dibedakan menjadi (a) frasa yang sebagian atau seluruhnya memiliki perilaku yang samadengan bagian-bagiannya, seperti si kancil, si terdakwa, para hakim’ (b)frasa yang seluruhnya berperilaku sama dengan salah satu unsurnya. Artinya, terdakwa dan kekasih memiliki perilaku sama dengan si terdakwa dan sang kekasih.

2.3 Frasa Endosentris

Frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya.

2.3.1 Frasa Endosentris Berinduk Tunggal (Frasa Modifikasi)

Frasa endosentris berinduk tunggal terdiri atas induk yang menjadi penanda kategorinya dan modifikaror yang menjadi pemerinya.

1) Frasa nominal adalah frasa yang terdiri atas nomina (sebagai pusat) dan unsur lain yang berupa adjektiva, verba, numeralia, demonstrativa, pronominal, frasa preposisional, frasa dengan yang, konstruksi dengan yang…-nya, atau frasa lain.

Contoh:meja batu, teman separtai, hadiah untuk ibuku, hati yang luka, orang yang dicintainya, politisi yang ditinngal di Jakarta itu, anak manis, kulit kuning langsat, kolam yang jernih, nasi berbakul-bakul, uang itu, sang raja, anak mereka, banyak mahasiswa, dua buah rumah, batu bertulis, peristiwa yang amat penting yang terjadi kemarin.

2) Frasa Pronominal

Frasa pronominal adalah frasa yang terdiri atas gabungan pronominal dan pronominal atau gabungan pronimina dan adjektiva, adverbial, numeralia, dan demonstrativa.

Contoh: kami berdua, mereka itu, lagi-lagi saya, kamu dengan dia.

3) Frasa Verbal

Frasa verbal adalah frasa yang tediri atas gabungan verba dan verba atau gabungan verba dengan adverbial atau gabungan verba dan preposisi gabungan.

Contoh: pergi kerja, pulang pergi, makan dengan lahap, masuk ke dalam, jalan tanpa arah, coba baca buku, mati kartu, beristri dua, dapat diketahui, dating ke, masuk desa.

4) Frasa Adjektival

Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori apa pun, asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva.

Contohnya: sedikit masam, cantik benar, gagah berani, panas terik, kuat iman, masih belum pasti, agak nakal juga.

5) Frasa Numeral

Frasa numeral adalah frasa yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan, dan nomina ukuran.

Contoh: sembilan belas, dua lusin, dua atau tiga, cetakan pertama, ribuan penduduk.

2.3.2 Frasa Endosentris Berinduk Banyak

1) Frasa Koordinatif

Frasa kooordinatif adalah frasa endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel.

Contoh: kaya atau miskin, untuk dan atas nama klien, baik merah maupun biru, entah suka entah tidak, makin tua makin bermutu.

2) Frasa Apositif

Frasa apositif adalah frasa endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada maujud yang sama.

Contohnya:

Ria, anak kakakku yang tinggal di Lampung,

Megawati Soekarno Putri, salah satu mantan Presiden Republik Indonesia.

2.4 Frasa dan Kata Majemuk

Harimurti Kridalaksana (1985) mengemukakan bahwa:

1. kata majemuk harus berstatus kata; kata majemuk bukan frasa;

2. kata majemuk merupakan konsep sintaksis, bukan konsep semantic.

2.5 Kolokasi Kata

Kolokasi disebut juga sanding kata. Kolokasi dibedakan dengan idiom, kata majemuk, dan frasa karena sanding kata dilihat dari kemungkinan adanya beberapa kata dalam lingkungan yang sama atau perasosiasian yang tetap antara kata dan kata-kata tertentu (Kridalaksaan, 1982). Idiom merupakan konstruksi dari unsur-unsur kata yang saling memilih atau konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya, misalnya panjang tangan berarti pencopet atu pencuri.

Secara garis besar kolokasi dalam bahasa Indonesia dibedakan diklasifikasi menjadi dua, yaitu:

1. Kolokasi kelompok I, yaitu kolokasi yang berkonstruksi [N+A], terbagi menjadi dua belas tipe, sebagai berikut:

1. Kolokasi tipe I A dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantik +watak atau +perbuatan.

Contoh: anak cerdas, orag sabar, gadis lincah.

1. Kolokasi tipe I B dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +waktu, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: iklan penting, malam aman, hari panas.

1. Kolokasi tipe I C dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, +terbilang, -bernyawa, +kelompok, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: masyarakat sejahtera, negara makmur, tanah subur.

1. Kolokasi tipe I D dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, +bagian tubuh, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: wajah bulat, hati lembut, gidung mancung.

1. Kolokasi tipe I E dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +kualitas.

Contoh: nasib buruk, cerita pendek, karya baru.

1. Kolokasi tipe I F dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan diri.

Contoh: bapak gagah, pemuda ganteng, ibu anggun.

1. Kolokasi tipe I G dibentuk oleh nomina yang berciri semantis +insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +usia.

Contoh: janda muda, orang tua, gadis manis.

1. Kolokasi tipe I H dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +warna.

Contoh: angsa putih, kotak hijau, kertas kuning.

1. Kolokasi tipe I I dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +ukuran.

Contoh: barang berat, bangku panjang, sungai lebar.

1. Kolokasi tipe I J dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: bibir sumbing, dada bidang, jari lentik.

1. Kolokasi tipe I K dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, -konkret, -terbilang, bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +keadaan.

Contoh: awan mendung, cahaya redup, cuaca buruk.

1. Kolokasi tipe I L dibentuk oleh nomina yang berciri semantis -insani, +konkret, +terbilang, -bernyawa, sedangkan adjektiva mempunyai ciri semantis +lingkungan.

Contoh: pintu baru, jendela bekas, laut luas.

1. Kolokasi lelompok II memiliki konstruksi adjektiva ditambah nomina atau [A+N], yang pada dasarnya kolokasi tipe ini merupakan kebalikan dari kolokasi kelompok I.

Contoh: [A] + [N]

Hangat-hangat kuku

Kuning langsat

Merah darah

bab3

KLASIaFIKASI KLAUSA

3.1 Pengantar

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat.

3.2 Klausa Berdasarkan Distribusi Satuan

Berdasarkan potensinya untuk dibentuk menjadi kalimat, klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat.

3.3 Klausa Berdasarkan Fungsi

Berdasarkan fungsinya, klausa dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap.

3.3.1 Subjek

Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara.

Contoh: Kami sekeluarga bulan lalu berlibur ke Bali.(kami sekeluarga merupakan subjek)

3.3.2 Objek

Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomona atau frasa nomina yang melengkapi verba transitif. Objek dapat dibagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung.

Contoh objek langsung: bibi sedang menanak nasi.

Contoh objek tak langsung : bibi sedang menanak nasi untuk kita semua.

3.3.3 Klausa Keterangan

Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.

Contoh:

1. keteranga akibat: penjahat itu dihukum mati
2. keterangan sebab: karena sakit, ia tidak jadi ikut
3. keterangan jimlah: bagai pinang dibelah dua
4. keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat

3.3.4 Klausa Pelengkap

Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nomina, adjektiva, atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal, seperti:

1. abangku menjadi pilot
2. kami bermain bola
3. aku dianggap patung

3.4 Klausa Berdasarkan Struktur

3.4.1 Klausa Verbal

Klausa verbal adalah lausa yang predikatnya verba.

Contoh: saya makan, adik mandi.

Klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif taktransitif.

Klausa verbal aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan atau mempunyai objek.Contoh:

Bibi menjual makanan, aku mengirimkan surat, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif transitif resiprokal adalah klausa yang subjeknya melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya, tetapi secara berbalasan atau klausa yang subjeknya saling melakukan pekerjaan yang disebutkan predikat verbalnya. Contoh: Ia berpandangan dengan ibunya.

Klusa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya.

Contoh: korban ditembak, kami kehujanan, dan lain-lain.

Klausa verbal aktif taktransitif adalah klausa yang predikat verbalnya tidak mempunyai sasaran dan tidak mempunyai onjek.

Contoh: kelakuannya menjadi-jadi, pengetahuan kita bertambah, dan lain-lain.

3.4.2 Klausa Nonverbal

Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina, pronomina, adjektiva, numeralia, atau frasa preposisional.

Contoh: adik ke Bandung, ayahku nelayan, dia sedang sakit, dan lain-lain.

3.5 Hubungan Antarklausa

3.5.1 Hubungan Antarklausa yang Koordinatif

Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara.

3.5.1.1 Hubungan Aditif (jumlah)

Hubungan jumlah ditunjukkan oleh klausa kedua berisikan informasi yang menambahkan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

1. Saya mencintai dan memahami pekerjaan saya selam ini.
2. Saya bersama beberapa orang teman ingin mendirikan perpustakaan.

3.5.1.2 Hubungan Adversatif (pertentangan)

Hubungan pertentangan biasanya ditunjukkan oleh klausa kedua yang berisikan informasi yang bertentangan dengan isi informasi pada klausa pertama.

Contoh:

1. Hubungan pertentangan yang menyatakan penguatan

Contoh: Ia tidak hanya rajin dan pandai, tetapi juga teliti dan rendah hati.

1. Hubungan pertetangan yang menyatakan implikasi

Contoh: Aku sudah lama berdagang, tetapi belum juga punya uang banyak.

1. Hubungan pertentangan yang menyatakan perluasan

Contoh: Budaya daerah harus dijaga, tetapi budaya luar baik jangan ditolak.

3.5.1.3 Hubungan Alternatif (pilihan)

Hubungan pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan diantara berbagai kemungkinan yang ada yang ditunjukkan oleh klausa yang dihubungkan itu.

1) Hubungan pilihan yang menyatakan pertentangan

Aku harus bersekolah dengan sengsara atau berhenti, lalu mencari uang.

2) Hubungan pilihan yang tidak menyatakan pertentangan

Dia duduk merenungkan masa lalu ataukah sedang merancang masa depan?

3.5.2 Hubungan Antarklausa Subordinatif

Hubungan antarklausa subordinatif menunjukkan hubungan yang hierarkis.

3.5.2.1 Hubungan Sebab

Kata hubung yang digunakan adalah sebab, karena, dan oleh karena.

Contoh:

a. Mereka berkelahi karena salah paham

b. Saya tidak tahu apa sebab dia tidak mau datang ke pertemuan itu.

3.5.2.2 Hubungan Akibat

Kata hubung yang digunakan adalah akibat, akibatnya, dan hasilnya.

Contoh: Kebakaran itu terjadi akibat kelalaian petugas pada bagian mesin.

3.5.2.3 Hubungan Tujuan

Kata hubung yang digunakan adalah untuk, demi, agar, supaya, dan biar.

Contoh: Saya bekerja keras demi membesarkan anak-anak saya.

3.5.2.4 Hubungan Syarat

Kata hubung yang digunakan adalah jika, kalau, jikalau, dan asalkan.

Contoh: Saya mau datang ke pertemuan penting itu jika anda datang juga.

3.5.2.5 Hubungan Waktu

1) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sejak atau sedari.

Contoh: Kami terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah.

2) Waktu Bersamaan

Ditandai dengan kata hubung ketika, pada waktu, (se)waktu, seraya, serta, sambil, semantara, selagi, selam, dan tatkala.

Contoh: Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari.

3) Waktu Berurutan

Ditandai dengan kata hubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai, dan begitu.

Contoh: Sesudah pulang sekolah, dia membantu orang tuanya bekerja di ladang.

4) Waktu Batas Permulaan

Ditandai dengan kata hubung sampai dan kepada.

Contoh: Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.

3.5.2.6 Hubungan Kosesif

Ditandai dengan kata hubung sungguh (pun), sekalipun, dan kendati (pun).

Contoh: Dia rela anaknya pergi belajar walaupun harus jauh dari kampung halaman.

3.5.2.7 Hubungan Cara

Ditandai dengan kata hubung dengan atau tanpa.

Contoh:

Petinju itu menang dengan cara mengelakkan setiap pukulan yang datang.

3.5.2.8 Hubungan Kenyataan

Klausa subordinatif pada hubungan kenyataan atau hubungan komplementatif bertugas melengkapi verba atau melengkapi nomina subjek.

Contoh: Sekarang aku baru tahu (bahwa) anak itu ternyata sangat rajin.

3.5.2.9 Hubungan Alat

Ditandai dengan kata hubung dengan, tidak dengan, memakai, dan menggunakan.

Contoh: Petani membalik tanah dengan cangkul.

3.5.2.10 Hubungan Perbandingan

3.5.2.10a Hubungan Ekuatif

Hubungan ekuatif mempersyaratkan persamaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah sama + adjektiva +dengan atau se-+adjektiva, seperti:

Sekarang penghasilan anak-anakku sama banyak dengan penghasilanku.

3.5.2.10b Hubungan Komparatif

Hubungan komparatif mempersyaratkan perbedaan taraf antara klausa utama dan klausa subordinatif. Bentuk persamaan yang digunakan adalah lebih/kurang +dari atau lebih/kurang + adjektiva +daripada, seperti:

Pesta itu telah menghabiskan biaya lebih dari/kurang dari Rp 50.000.000,00

3.5.2.11 Hubungan Hasil

Ditandai dengan kata hubung sampai, sampai-sampai, sehingga, dan maka.

Contoh: Semburan Lumpur panas itu makin lama makin besar sehingga kami hampir tidak mampu lagi mengatasinya.

3.5.2.12 Hubungan Atributif

Ditandai dengan kata hubung subordinatif yang.

1) Hubungan Atributif Restriktif

Hubungan seperti ini mewatasi makna nomina yang diterangkannya. Akibatnya, keterangan pewatas itu menjadi bagian integral dari nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya yang tinggal di Bogor berjualan telur.

2) Hubungan Atributif Takrestriktif

Klausa relatif pada hubungan atributif takrestriktif hanya memberikan tambahan informasi pada nomina yang diterangkannya.

Contoh: Istrinya, yang tinggal di Bogor, berjualan telur.

3.5.2.13 Hubungan Andaian

Klausa subordinatif pada hubungan pengandaian berisikan andaian atas sesuatu yang terdapat pada klausa utama.

1) Andaian yang tidak mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung andaikata dan andaikan.

Contoh: Andaikata saya merpati, tentu sudah aku terbangi laut yang luas itu.

2) Andaian yang mungkin terjadi

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jika, kalau, ikalau, apabila, dan bilamana.

Contoh:Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud Pasal 6, izin perusahaan tersebut dapat dicabut.

3) Andaian yang menggambarka kekhawatiran

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung jangan-jangan.

Contoh: Mengapa ayah diam saja sejak tadi? Jangan-jangan ayah marah kepada kita.

4) Andaian yang berhubungan dengan ketidakpastian

Andaian jenis ini menggunakan kata penghubung kalau-kalau.

Contoh: Kita berdoa sajalah, kalau-kalau ia juga datang pada hari ini.

3.5.2.14 Hubungn Optatif (Berharap)

Kata hubung yang digunakan adalah agar, semoga, moga-moga, dan mudah-mudahan.

Contoh: Kami memohon semoga bapak mau memaafkannya.

BAB 4

KLASIFIKASI KALIMAT

4.1 Apakah Kalimat?

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.

4.2 Strategi Pengenalan Kalimat

Kalimat dasar adalah kalimat yang terdiri atas unsur-unsur pokok. Jadi kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami perluasan.

4.3 Fungsi Sunjek, Predikat, Objek, dan Fungsi Lain

Untuk mengetahui subjek sebuah kalimat, kita dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan unsur predikat sebagai tumpuan. Misal, apa yang……..? atau siapa yang…….?

4.4 Kalimat Menurut Bentuk

4.4.1 Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat, Semua kalimat dasar adalah kalimat tunggal. Kalimat tunggal sapat diperoleh dari beberapa segi.

a) Kalimat tunggal adalah kalimat murni

Contoh: Rupiah menguat.

b) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang diperluas dengan berbagai keterangan.

Contoh: Wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

c) Kalimat tunggal adalah kalimat dasar yang berubah susunannya.

Contoh: Berdiri aku di senja senyap.

Dalam Bahasa Indonesia terdapat enam pola kalimat:

1) Subjek (KB) + Predikat (KK) : pakar politik berdiskusi

2) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) : Mahasiswa mengikuti ujian

3) Subjek (KB) + Predikat (KK) +Objek (KB) +Objek (KB) :D osen membawakan saya buku Biologi

4) Subjek (KB) + Predikat (KS) : Harga kertas mahal

5) Subjek (KB) + Predikat (K.Bil) : Komputernya dua buah

6) Subjek (KB) + Predikat (KB) : Temanku guru SMU 1

Untuk menciptakan beragam kalimat tunggal, enam pola kalimat dasar di atas dapat diperluas atau dipermutasikan unsur-unsurnya.

Pola 1 adalah pola kalimat yang hanya mengandung unsur subjek nomina dan unsur predikat verba.

Contoh: Kami berjuang.

Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek nomina.

Contoh: Kami mencairkan dana.

Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat verba, dan berobjek kedua nomina.

Contoh: Surat kabar memberikan saya kepintaran.

Pola 4 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat adjektiva.

Contoh: Suku bunga bank sangat tinngi.

Pola 5 adalah pola kalimat yang bersubjekkan nomina dan berpredikat numeralia.

Contoh: Panjang mobil itu empat meter.

4.4.2 Perluasan Kalimat Tunggal

Keenam pola kalimat dasar itu dapat diperluas dengan unsure keterangan.

1. Ketarangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan, sekitar kota;
2. Keterangan waktu, seperti tiap tahun, ninggu ketiga;
3. Keterangan alat, seperti dengan pensil, dengan keris;
4. Keteranga cara, seperti dengan berhati-hati, dan berbagai jenis keteranga lainnya.

4.4.3 Kalimat Majemuk

4.4.3.1 Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua kalimat tunggal atau lebih yang digabungkan dengan kata hubung yang menunjukkan kesetaraan, seperti dan, atau, sedangkan, dan tetapi.

4.4.3.2 Kalimat Majemuk Bertingkat (taksetara)

Kalimat majemuk taksetara terdiri atas unsur anak kalimat dan induk kalimat.

Contoh: Saya akan sulit sampai di kantor jika pagi-pagi sekali hari sudah hujan.

4.4.3.3 Kalimat majemuk taksetara Rapatan

Kalimat majemuk taksetara atau kalinat majemuk bertingkat dapat juga dirapatkan jika terdapat unsure subjek yang sama.

Contoh: Mereka sudah menyelesaikan tugas

Mereka boleh mengambil tanda terima

Dapat dirapatkan menjadi Karena mereka sudah menyelesaikan tugas, mereka boleh mengambil tanda terima.

4.4.3.4 Penghilangan Kata Penghubung pada Kalimat Majemuk

Contoh: Dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar. (salah)

Jika dibandingkan dengan pendapatan pegawai negeri, pendapatan pegawai swasta jauh lebih besar.(benar)

4.4.3.3 Kalimat Majemuk Campuran

Terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

Contoh: Karena pembicaraan mengenai pemecahan atom belum rampung, kami terpaksa bekerja sampai malam dan melakukan pembagian kerja dengan lebih baik lagi.

4.4.4 Jenis Kalimat menurut Bentuk dan Gaya

a. Kalimat yang Melepas

Jika kalimat majemuk diawali oleh unsure utama, lalu diikuti oleh unsur tambahan (induk kalimat diikuti anak kalimat), gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian melepas.

Contoh: Kemunduran perekonomian kita harus diatasi sebelum masyarakat menderita kelaparan total.

b. Kalimat yang Berklimaks

Jika kalimat majemuk diawali anak kalimat dan didikuti induk kalimat, gaya penyajian tersebut disebut gaya penyajian berklimaks.

Contoh: Karena penjarah berbaju hitam, petugas keamanan tidak dapat mengenali para penjarah tersebut.

c. Kalimat yang Berimbang

Jika kalmiat disusun dalam bebtuk kalimat mejemuk campuran.

Contoh: Stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan leluasa, dan masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

4.5 Kalimat menurut Fungsi

a. Kalimat Pertanyaan (deklaratif)

Dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap ketika ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bicaranya.

Contoh: Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lunak.

b. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)

Dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi yang diharapkan.

Contoh: Di mana mereka melakukan latihan?

c. Kalimat Perintah atau Permintaan (Imperatif)

Dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang melakukan perbuatan.

Contoh: Dilarang merokok di ruangan ini!

e.Kalimat Seruan

Dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang kuat atau yang mendadak.

Contoh: Bukan main sulitnya soal ini.

4.6 Kalimat Efektif

Adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan pada pemikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran penulis.

Contoh: Kejaksaan Agung akan menayangkan wajah para koruptor yang menjadi buronan di televisi.

Kalimat tersebut tidak efektif karena yang dimaksudkan adalah menayangkan di televisi wajah koruptor yang menjadi buronan.

4.6.1 Kesepadanan Struktur

Yang dimaksudkan kesepadanan struktur adalah kesepadanan antara pikiran dan struktur bahasa yang digunakan.

1. Hadirnya subjek dan predikat

Contoh: Bagi mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September. (salah)

Mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah pada akhir bulan September.(benar)

1. Tidak Hadirnta Subjek ganda

Contoh: Patung Dewi Sri terletak lemari kaca. (salah)

Patung Dewi Sri terletak di dalam lemari kaca.

1. Tidak Hadirnya Kata Penghubung Intrakalimat pada Kalima Tunggal

Kata penghubung intrakalimat yang dimaksudkan adalah sedangkan dan sehingga.

Contoh: Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (salah)

Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.(benar)

1. Tidak Hadirnya Kata yang di Depan Predikat

Contoh: Bahasa Indonesia yanf berasal dari bahasa Melayu.(salah)

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

4.6.2 Keparalelan Bentuk

Yang dimaksud adalah kesejajaran atau kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomona.

Contoh: Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan penutupannya dengan sangat cermat. (salah)

Kebobrokan perusahaan itu tersembunyi dengan rapat dan tertutup dengan cermat.

4.6.3 Ketegasan Makna

Ketegasan makna kalimat ditentukan oleh beberapa unsur.

Contoh: Harapan Presiden ialah agar kita semua membangun bangsa dan negara ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Unsur yang ditegaskan dalam kalimat itu aslah harapan Presiden.

4.6.4 Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan penghematan kata adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain dan tidak menggunakan apa pun yang dianggap tidak perlu.

1. Penghilangan Subjek yang Sama pada Anak Kalimat

Contoh: karena dia tidak diundang, dia tidak dating ke pesta itu.(salah)

Karena tidak diundang, dia tidak dating ke pesta perpisahan itu.

1. Penghindaran Pemakaian Superordinat pada Hiponimi

Contoh: Ia memakai baju warna merah muda. (salah)

Ia memakai baju merah muda. (benar)

1. Penghindaran Pemakaian Sinonim pada Satu Kalimat

Ontoh: Anda dipersilakan naik ke atas untuk beristirahat.(salah)

Anda dipersilakan naik untuk beristirahat.(benar)

BAB 5

SYARAT-SYARAT PARAGRAF

5.1 Definisi Paragraf

Sebuah paragraph harus memiliki sebuah gagasan utama. Gagasan utama adalah gagasan dasar tentang sesuatu, yang menjadi tumpuan berpikir bagi penulis untuk memunculkan gagasan berikutnya.

Sebuah paragraf harus merupakan satu gagasan yang utuh, artinya jika dilepaskan dari teks, sebuah paragraf sudah memiliki satu gagasan yang utuh dan jelas. Paragraf yang disusun dengan runtut (kohesif) ditandai oleh berpautnya kalimat yang satu dengan kalimat yang lain yamg ada di dalamnya. Paragraf yang disusun dengan padu (koherensif) ditandai oleh berpadunya gagasan yang tedapat dalam setiap kalimat yang membangunnya.

5.2 Keruntutan Paragraf

Keruntutan paragraf ditampilkan melalui hubungan formalitas (hubungan secara bahasa) diantara kalimat yang membentuk paragraf. Untuk itu, diperlukan alat penghubung antarkalimatagar keterpautan itu terlihat jelas.

1. Penanda hubungan antarkalimat

Berfungsi memadukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam sebuah paragraf. Terdapat lima penanda hubunhan antar kalimat , yaitu teknik pengacuan(reference), hubungan pelesapan (ellipsis), penggantian(substitution), perangkaian(conjunction), dan hubungan leksikal(lexical cohesion)

1. Hubungan dengan Teknik Pengacuan

1) Hubungan Ensoforis

Dapat dibedakan menjadi hubungan anaforis dan hubungan kataforis.

(a) Hubungan Pengacuan dengan itu

Pengangkatan anak wajib dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan di tempat tinggal sah pemohon. Penetapan itu…..

(b) Hubungan Pengacuan dengan begitu

Unit Konteks kalimat dinilai dengan UKBI yang terbatas. Begitu pula halnya dengan penilaian unit kerja lapangan.

(c) Hubungan Pengacuan dengan begitu itu

Hasil yang optimum itu memerlukan proses yang panjang dan waktu yang lama serta ketelitian yan tinggi. Hasil yang begitu (bagus) itu………

(d) Hubungan Pengacuan dengan demikian itu

Analisis kompetensi yang komprehensif merupakan langkah utama untuk menyusun standar kompetensi kerja yang dibutuhkan si bidang tertentu. Analisis yang demikian itu…………..

(e) Hubungan Pengacuan dengan seperti itu

Telah dinyatakan berulang-ulang bahwa hasil yang optimum memerlukan proses yang panjang. Hasil yang seperti itu………

(f) Hubungan Pengacuan dengan tersebut

Setiap orang dilarang membunuh gajah, kura-kura, dan burung. Kalau ada yang melanggar laranga tersebut, pelanggar dapat dihukum.

(g) Hubungan Pengacuan dengan tersebut itu

Untuk menjaga kelestarian hidup gajah dan kura-kuara hijau, setip orang dilarang membunuh gajah dan kura-kura tersebut itu.

(h) Hubungan Pengacuan dengan –nya

Untuk menjaga kelestarian gajah, setiap orang dilarang membunuhnya.

b) Hubungan Eksoforis

Hubungan eksoforis dapat disebut juga hubungan luar bahasa.

Contoh: Hafid melihat ada makanan di atas meja makan, lalu ia bertanya, “Makanan siapa ini? Boleh saya makan , Bu?”

2) Hubungan Penggantian

Ria dan Eka kemarin siang bersama-sama pulang ke Bogor. Mereka berdua naik kereta api.

3) Hubungan Pelesapan

Ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tesurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya.

“Sudah dua hari saya sakit dan sudah dua hari pula (saya) tidak masuk kerja. Sementara itu, bahan makanan di rumah sudah tidak ada lagi. Saya tidak tahu entah dari mana (saya) akan dapat makan.

4) Hubungan Kata Perangkai

Siti Hawa selalu dipercaya sebagai manusia kedua karena ia diciptakan setelah Tuhan menciptakan adam. Bahkan, Siti Hawa (ia) diciptakan dari tulang rusuk manusia pertama itu.

5) Hubungan dengan Penanda Leksikal

Contoh: Setiap warga negara garus mematuhi perundang-undangan yang berlaku di negeri ini, termasuk mamatuhi Undang-Undang Lalu Lintas di Jalan Raya.

6) Pengulangan

Misalnya: Ketentuan untuk menggunakan baju seragam putih-putih pada hari Senin hanya berlaku bagi anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Ciluer. Anak-anak itu harus segera diberi tahu mengenai ketentuan itu agar mereka bias menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan anak itu.

(b) Penominalan

(a) Sebelum memangku jabatannya, setiap calon terpilih harus mengucapkan sumpah dan janji setia. (b) Pengucapan sumpah dan janji setia tersebut…….

(c) Penggunaan kata hubung intrakalimat

Contoh: Jika terjadi kematian warga Negara, instansi yang ditunjuk wajib mencatat kematian warga Negara itu.

(d) Penggunaan ungkapan penghubung antarkalimat

Contoh: Catatan peristiwa itu amat penting untuk penyelidikan. Untuk itu, diperlukan keseriusan dan kecermatan yang tinngi dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Contoh ungkapan penghubung antarkalimat:

1. Hubungan sebab akibat: oleh karena itu, dengan demikian, jadi, akibatnya.
2. Hubungan pertentangan: sebaliknya, akan tetapi, namun, padahal, meskipun demikian dsb;
3. Hubungan syarat: kalu begitu, kalau demikian, jika begitu dsb;
4. Hubungan penjumlahan: lagi pula, lain dari itu, di samping itu, dsb;
5. Hubungan urutan waktu: kemudian, setelah itu, lalu, dsb;
6. Hubungan cara: dengan demikian, dengan itu, dsb;
7. Hubungan lebih: bahkan, malah, lebih-lebih, dsb;
8. Hubungan pertalian untuk menandai manfaat: untuk itu;
9. Hubungan perangkaian: akhirnya, dengan kata lain, berkaitan dengan itu, dsb.

5.3 Simpulan

Paragraf dapat dikenali lewat ciri sebagai berikut:

1. Kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraf dapat berurutan atas kalimat tunggal, kalimat koordinatif, dan kalimat subordinatif, atu sebaliknya.
2. Pada umumnya, paragraf memiliki kalimat tema, yang biasanya diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf.
3. Kalimat yang diletakkan pada bagian awal, tengah, atau akhir paragraf biasanya merupakan perincian lebih lanjut atau penjelasan atas tema.
4. Paragraf juga dapat memiliki bagian pengantar.

BAB 6

SATUAN-SATUAN DALAM WACANA

6.1 Pendahuluan

Banyak orang menduga bahwa satuan bahasa yang terlengkap adalah kalimat. Dugaan itu salah sebab sebuah kalimat bagaimanapun bentuknya pasti menjadi bagian dari sebuah wacana, baik wacana lisan maupun wacana tertulis.

6.2 Aspek-Aspek Wacana

6.2.1 Aspek Semantis

a. Hubungan semantis antarbagian wacana

ditandai oleh hubungan antara proposisi dan proposisi bagian-bagian wacana itu.

a.1 Hubungan sebab atau hubungan alasan

Contoh: Musim kemarau tahun ini amat panjang, Di mana-mana terjadi kekeringan, petani mengeluh tak ad air, Musim tanam terlambat, dsb.

a.2 Hubungan sarana-tujuan

b. Hubungan latar belakang semantis wacana

b.1 Kesatuan topik

Contoh: “ Dijual. Butuh uang tunai segera. Sebuah rumah tua, luas tanah 1.500 meter persegi dan luas bangunan 200 meter persegi. Peminat yang serius harap menghubungi kami. Kami tidak mempunyai waktu untuk melayani perantara.

b.2 Hubungan di antara peserta tuturan

Contoh: Ketika telepon berdering, seorang ibu berkata kepada anaknya:

Ibu : Ada telepon untuk kamu, Na.

Anna : Ma, tolong terima sebentar. Aku lagi mandi.

6.2.2 Aspek gramatikal

1. Konjungsi

Di dalam bahasa Indonasia, konjungsi dapat bertugas menyambungkan frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat.

1. Elipsis (pelesapan)

Biasanya apa yang dilesapkan di dalam salah satu bagian merupakan ulangan dari bagian yang lain.

Contoh: Di mukamu ada sebuah rongga

(di mukamu) ada giginya ada lidahnya

Lewat rongga itu semua bias

Kumasukkan ke dalam perutmu

1. Paralelisme

Paralelisme atau kesejajaran bentuk dalam wacana mengikuti pola di antara bagian di dalam wacana itu.

Contoh: “ Berhadapan dengan struktur teks sajak kadang-kadang seperti berhadapan dengan ayat-ayat atau yanda-tanda kebesaran Tuhan. Pendek kata kita membaca alam.”

1. Penggantian (substitusi)

Dapat bersifat anaforis atau pun kataforis.

d.1 Penggantian Anaforis

Penggantian anaforis selalu menggunakan pronominal persona ketiga, seperti:

Kami pergi berjalan-jalan ke kota bersama sebagian penduduk desa kami. Mereka banyak yang memang sama sekali belum pernah melihat keramaian kota. Oleh karena itu, mereka tampak sangat gembira.

d.2 Penggantian Kataforis

Pronomina persona-nya dapat juga digunakan untuk penggantian kataforis, seperti:

Dengan kecerdasan yang luar biasa serta dilengkapi dengan kecermatan dan ketelitiannya yang tinggi, saya yakin kelak Ahmad dapat menjadi seorang peneliti ulung yang berhasil.

6.3 Satuan Satuan di Dalam Wacana

Satuan terbesar di dalam wacana bukan kalimat, melainkan paragraf. Jika dilepaskan dari sebuah wacana, paragraf sudah merupakan suatu kesatuan informasi yang lengkap, utuh, dan selesai.

BAB 7

TEORI DAN PEMIKIRAN LINGUISTIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA

7.1 Pengantar

Pada dasarnya, jika dilihat dari segi teknik analisis suatu kalimat, ada dua macam teori linguistik yang pernah berkembang di Indonesia, secara garis besarnya, yaitu teori linguistik tradisional dan teori linguistik modern. Perbedaan yang mendasar di antara kedua teori tersebut terletak pada titik tolak memandang, cara menganalisis, dan cara mengajarkan bahasa. Teori linguistik tradisional memulai analisis bahasa dengan kata dan bentuk kata, kemudian sampai pada struktur kalimat. Teori linguistik tradisional berangggapan bahwa semua bahasa di dunia ini memiliki struktur kalimat yang sama. Teori linguistik modern memulai analisis bahasa dari kalimat, kemudian beralih ke unsur yang lebih kecil, yaitu klausa, frasa, kata, morfem, dan fonem yang mendasari struktur kalimat tersebut (disebut teori linguistik struktural).

Ciri menonjol dari teori linguistik modern atau teori linguistik struktural adalah (1) pandangan tentang pentingnya hubungan antarunsur bahasa lebih daripada unsur-unsur itu sendiri, (2) satu-satunya objek linguistik yang benar adalah sistem bahasa (langue), dan (3) penelitian bahasa dapat dilakukan secara diakronis ataupun sikronis (Kridalaksana, 1991:7)

7.2 Teori Linguistik yang Berkembang di Indonesia

7.2.1 Teori Linguistik Tradisional

Perintis linguistik pada masa Yunani Kuno, Plato (436-33 SM), telah memberikan prinsip-prinsip dasar linguistik kemudian, perintis linguistik berikutnya, Socrates (469-39 SM), melanjutkan ide-ide Plato dan Socrates yang berpandangan tentang bahasa.

Perintis lai pada masa Yunani Kuno adalah aristoteles (384-322 SM), yang banyak menulis buku tentang logika dan linguistik. Aristoteles dianggap sebagai orang yang memperkenalkan kategori kata (distinct parts of speech). Pemikiran para perintis linguistik itu hingga sekarang diyakini kebenarannya oleh para linguis di Indonesia. (cf. Hani’ah dkk.2006)

Linguis yang tergolong kelompok ini m,isalnya Plato, Socrates, Aristoteles, Panini. Linguis Indonesia yang menggunakan teori tradisional dalam analisis penelitian mereka seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan J.S. Badudu.

7.2.2 Teori Linguistik Transformasi Generatif

Teori sintaksis struktural dimulai dengan diterbitkannya buku Language oleh Leonard Bloemfield pada tahun 1933. Pengikut Bloemfield yang brilian adalah Noam Chomsky. Ia melahirkan suatun teori yang disebut teori linguistik transformasi generatif. Pada tahun 1957 Chomsky menerbitkan buku yang berasal dari disertasinya yang berjudul Syntactic Structure. Tahun 1957 itulah dianggap tonggak awal berkembangnya aliran baru dalam linguistik. Dalam teori linguistik transformasi generatif terdapat struktur dalam (deep structure) dalam pikiran manusia dan strukrur luar (surface structure) dalam wujud bahasa.

Ciri linguistik transformasional, antara lain:

a. bersifat rasionalistis, dan antibehaviorisme;

b. bertujuan menemukan apa yang semesta dan teratur dalam memahami dan menghasilkan kalimat yang gramatikal;

c. memakai konsep-konsep competence dan performance;

d. membedakan struktur lahir dan struktur batin..

Tokoh-tokoh teori linguistik transformasi generatif adalah A.N. Chomsky, J.McCawley, dan G. Lakoff (Kridalaksana, 1991:16)

7.2.3 Teori Linguistik Stratifikasi

Teori linguistik stratifikasi dilontarkan dan dikembangkan oleh Sidney Lamb dari Universitas California. Menerbitkan buku pengantar tatabahasa stratifikasi yang berjudul Outline of Stratificational Grammar tatabahasa stratifikasi mengambil nama dari aneka ragam strata ‘lapisan’ yang terdapat dalam suatu bahasa.

Ciri teori linguistik stratifikasi:

1. bahasa dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan dan bukan sistem unsur-unsur;
2. bahasa dianggap sebagai sistem statis, jadi menentang konsep-konsep yang menggambarkan proses;
3. bahasa dianggap sebagai sistem jaringan dan kaidah-kaidah realisasi yang menghubungkan bagian-bagian struktur yang disebut strata; ada strata leksem, strata morfem, ada strata fonem.

Tokoh dari linguistik stratifikasi adalah S. Lamb, H.A.Gleason, D.G.Lookwood, dan A. Makkai (Kridalaksana, 1991:15)

7.2.4 Teori Linguistik Tagmemik

Ciri-ciri teori linguistik tagmemik:

1. bersifat fungsionalitas;
2. membedakan satuan etik dan satuan emik;
3. analisis gramatika tidak hanya terbatas pada kalimat, tetapi sampai ke wacana;
4. satuan dasar berupa tagmen.

Tokoh teori linguistik tagmemik adalah K.L. Pike, Evelyn Pike, R. Longacre, dan lain-lain (Kridalaksana, 1991:13)

7.2.5 Teori Linguistik Kasus

Ciri-ciri teori linguistik kasus:

1. bersifat generatif;
2. mendapat pengaruh dari Pike;
3. dalam semantik dianggap bahwa nomina berhubungan dengan verba dalam struktur batin berupa berbagai kasus, seperti kasus pelaku, penderita, penerima, dan sebagainya.

Tokoh teori linguistik kasus adalah W. Chafe. Libguis Indonesia yang pernah menerapkan teori ini dalam penelitian linguistik adalah D.P. Tampubolon dan Soenjono Dardjowidjojo (Kridalaksana, 1991:16-17;34)

7.2.6 Teori Linguistik Fungsional

Ciri-ciri teori linguistik fungsional:

1. teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi, yakni fungsi semantik, fungsi sintaktis, dan fungsi pragmatis;
2. tidak mengenal transformasi, filter, dekomposisi leksikal;
3. deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembebtukan predikasi dasar yang dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat;
4. pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaksis terus ke pragmatik dan berakhir pada apa yang disebutnya expression rules.

Teori linguistik fungsional dipelopori oleh Selain oleh simon Dik, juga danes, Halliday, A. Martinet, dan Susumu Kuno (Kridalaksana, 1991:18, 28, dan 35)

7.2.7 Beberapa Pemikiran tentang Linguistik

7.2.7.1 Pemikiran Saussure

Mongin-Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah tokoh linguistik modern kelahiran Geneva, Swiss. Tahun 1916 dipandang sebagai tahun kelahiran linguistik modern dan de Saussure dijuliki sebagai Bapak Linguistik Modern. Saussure memiliki pemukiran yang sangat brilian, yaitu dibedakannya dua aspek tanda bahasa, yaitu significant dan signifie. Saussure berprinsip bahwa ujaran (parole) tidak boleh dikacaukan dengan langue. Langue merupakan sistem yang dimiliki bersama yang secara taksadar kita pergunakan sebagai alat komunikasi, sedangkan parole adalah realisasi individual atas sistem bahasa, yang berupa kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seseorang dalam komunikasi sehari-hari.

7.2.7.2 Pemikiran Odgan dan Richard

Pada kurun berikutnya, C.K. Odgan dan I.A. Richard dalam The Meaning of Meaning (1923) membuat langkah yang lebih menentukan dalam membangkitkan minat bidang linguistik, khususnya di wilayah makna kata dan makna kalimat. Odgan dan Richard berbicara tentang kodrat kalimat. Mereka juga berbicara tentang acuan, yang menyatakan bahwa setiap tutur yang bermakna dalam kalimat tentulah mempunyai acuan.

7.2.7.3 Pemikiran John Lyons

Lyons (1996:72) tergolong ahli semantik yang sangat berpengaruh. Dia, menguraikan hubungan antara kegramatikalan (grammaticality) dan kebermaknaan (meaningfulness) serta keberterimaan (acceptability).

7.2.7.4 Pemikiran Sapir-Whorf

Edward Sapir(1884-1937) dan Benjamin Lee Whorf(1897-1941) berpendapat bahwa pandangan manusia tentang dunia luar dibentuk oleh bahasa yang dipakai. Dengan kata lain, bahasa mempengaruhi cara berpikir masyarakat pengguna bahasa yang bersangkutan.

7.2.7.5 Pemikiran Grice dan Leech

Grice dan Leech memunculkan konsep implikatur. Pemahaman implikatur yang dilontarkan Grice dan Leech (1975) berguna untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur,yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.

7.2.7.5 Pemikiran Austin

Austin (1968) memperkenalkan konsep tindak bahasa (speech act). Ia membedakan tiga jenis tindakan dalam konsep tindak bahasa, yaitu tindakan lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindakan lokusi adalah tindakan mengatakan sesuatu atau tindakan membuat suatu tuturan. Ilokusi adalah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu atau membuat pernyataan. Secara konvensional, yang dikategorikan sebagai tindakan ilokusi, antaralain, adalah tindakan (a) menyapa, (b) menuduh, (c) mengakui, (d) meminta maaf, (e) menantang, (f) mengeluh, (g) berdukacita, (h) mengucapkan selamat, (i) menyesalkan, (j) mengizinkan, (k) memberi salam, (l) meminta diri, (m) menghina, (n) memberi nama, (o) menawarkan, (p) memuji, (q) berjanji, (r) memprotes, (s) berterima kasih, (t) bersulang (Huurfordv dan Heasley, 1994:244; cf. Kaswanti Purwo 1984:19-20)

Perlokusi adalah tindak bahasa yang mengakibatkan kawan bicara melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu itu.

7.3 Hubungan Teori dan Metode dalam Linguistik

Metode dalam linguistik, sebagaimana dalam ilmu-ilmu lain, adalah metode ilmiah, yaitu berupa siklus empiris, yakni proses yang berlangsung dari metode induktif ke metode deduktif, dan dari metode deduktif kembali ke metode induktif. Metode induktif mencangkup empat langkah, yaitu pengamatan data, wawasan atas struktur data, perumusan hipotesis, dan pengujian hipotesis (Kridalaksana: 1991:11)

TINJAUAN PENULIS

Secara umum, ilmu linguistik (ilmu bahasa) memiliki dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran gramatika atau tataran bahasa. Dalam tataran bahasa terdapat bahasan tentang morfologi dan sintaksis. Sintaksis membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk di dalam lingkup sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa.

Menurut aliran struktural, sintaksis diartikan sebagai subdisiplin linguistik yang mempelajari tata susun frasa sampai kalimat. Dengan demikian ada tiga tataran gramatikal yang menjadi garapan sintaksis, yakni: frasa, klausa, dan kalimat (Suparno, 1993: 81)

Frase, klausa, dan kalimat adalah satuan bahasa. Konstruksinya disebut konstruksi sintaksis. Dilihat dari tatanan unsur-unsur pembentuknya, frase, klausa, dan kalimat itu merupakan kontruksi, yang secara khas disebut sintaksis karena konstruksi-konstruksi itu dibahas dan dikaji dalam subdisiplin sintaksis. Atas dasar pemikiran itu dikenal konstruksi frase, konstruksi klausa, dan konstruksi kalimat. (Suparno, 1987: 7)

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nenprediktif (Rusyana dan Samsuri, 1976) atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atu lebih. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat final), dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa.

Berdasarkan uraian-uraian dan pendapat-pendapat di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sintaksis adalah bidang subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan antarkata dalam tuturan yang meliputi tata susun frase, tata susun klausa, dan tata susun kalimat dalam suatu bahasa.

Pada buku ini telah digambarkan secara jelas mengenai pengertian sintaksis dan hal-hal apa saja yang dipelajari di dalamnya mulai dari pengertian sintaksis, klasifikasi frasa, klasifikasi klausa, klasifikasi kalimat, syarat-syarat paragraph, satuan-satuan dalam wacana hingga teori dan pemikiran linguistic yang berkembang di Indonesia.

Buku ini dikemas dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca memperoleh kemudahan dalam menelaah maksud penulis. Selain itu, buku ini juga dikemas dalam bentuk pembahasan per bab sehingga memudahkan pembaca dalam mempelajari isi buku. Untuk keperluan belajar Sintaksis tataran Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi belajar sintaksis

Buku karya: Prof. DR. E. Zaenal Arifin